Padu Padan Dengan 13 Kain Tenun Khas Indonesia 

Dianing Shiamita

, Fashion

Kekayaan budaya Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Masing-masing daerah di Indonesia memiliki budaya masing-masing yang unik dan patut untuk dilestarikan. Untuk pakaian misalnya, terdapat berbagai kain yang punya kecantikan khas yang kental dengan budaya dari daerah asalnya. Selain batik, Indonesia juga punya kain tenun yang memiliki banyak jenis dan bisa dipadukan dengan berbagai jenis pakaian untuk acara apa saja. Sudah tahu apa saja jenisnya? GoToMalls akan memberimu info 13 kain tenun khas Indonesia dan cara padu padannya:

Baca juga: 5 Perancang Busana Etnik Wanita Indonesia

Ulos

image credit: Pinterest

Siapa yang tidak kenal dengan ulos? Kain tradisional masyarakat Batak, Sumatera Utara ini sudah dikenal ke seluruh penjuru Nusantara. Biasanya suku Batak menggunakannya dalam bentuk selendang sebagai pelengkap baju tradisional. Ulos termasuk kain tenun halus yang cara pembuatannya tidak menggunakan mesin. Warna-warna yang banyak dipakai untuk membuat ulos antara lain hitam, putih, dan merah.

Mengikuti perkembangan mode saat ini, ulos sudah mulai dikembangkan menjadi aneka jenis pakaian,  mulai dari blus, dress, dan skirt. Dengan begitu akan sangat mudah untuk memadu padankannya dengan pakaian dan acara apa saja. Untuk ngampus, ngantor, hang out, liburan, bahkan acara resmi sekali pun, ulos bisa jadi andalanmu.

Lurik

image credit: Pinterest

Lurik merupakan kain asli dari Yogyakarta dan Solo yang dulunya dianggap sebagai kain untuk kelas menengah ke bawah. Bahannya yang terbuat dari katun biasa yang murah dianggap kurang menarik. Namun kini lurik sudah naik kelas menjadi salah satu kain tenun yang banyak dipakai para selebriti. Motif garis berwarna cokelat dan hitamnya membawa nuansa klasik pada penampilan orang yang memakainya.

Lurik juga sudah dimodifikasi menjadi berbagai pakaian yang cantik dan memberikan sentuhan etnik khas Nusantara. Warnanya juga mulai beragam sehingga membuat tampilan semakin menarik. Tren lurik yang kini sedang populer adalah penggunaannya untuk tambalan aneka jenis pakaian. Kamu bisa mengenakannya untuk acara santai hingga formal dalam berbagai gaya yang kamu suka.

Sasirangan

image credit: Pinterest

Suku Banjar di Kalimantan Selatan juga punya kain adat yang tak kalah cantik bernama sasirangan. Cara membuat kain ini adalah dengan diikat lalu dicelupkan dalam aneka warna sehingga menghasilkan motif yang beraneka ragam. Hampir mirip seperti jenis tie dye, tapi sasirangan menampilkan motif yang lebih elegan dan formal. Warna-warnanya cenderung cerah, seperti biru, hijau, orange, kuning, dan merah.

Contoh di atas mengaplikasikan kain sasirangan menjadi setelan blus dan celana panjang yang bisa dikenakan untuk ke kantor ataupun menghadiri acara formal. Warna ungunya sangat cantik dengan corak colorful yang membuatnya makin stunning.

Sarung Bugis

image credit: IG@lennyagustin18

Motif kotak-kotak dari bahan sutera dengan rangkaian benang emas dan perak menjadi ciri khas dari kain khas Makassar bernama sarung Bugis. Kain ini menampilkan perpaduan warna yang cukup ramai tanpa kesan berlebihan. Jadi masih mudah dipadu padankan dengan pakaian apapun. Awalnya sarung bugis hanya dipakai sebagai bawahan saja saat memakai pakaian tradisional, tapi kini sudah dimodifikasi menjadi aneka jenis pakaian.

Kesan playful sangat terlihat dari contoh mix and match kain sarung Bugis di atas. Blus dengan aksen ruffle pada bahu serta potongan asimetris pada tepi bawah dipadukan dengan rok beraksen lipit bertumpuk. Ditambah dengan corak warna kuning yang cerah makin memberikan tampilan yang ceria untuk menemani tampilanmu.

Tapis

image credit: Pinterest

Bagi sebagian orang mungkin kain tapis masih terdengar asing di telinga. Kain asal Lampung ini memang belum banyak yang memakainya, karena termasuk kain adat yang hanya dikenakan saat momen-momen tertentu. Harganya juga mahal, yaitu sekitar Rp 1 juta. Tak heran, karena kain ini memang sangat cantik dan mewah dengan motif lokal yang khas Lampung. Sentuhan warna emas makin membuatnya terlihat elegan untuk dipakai pada acara formal, seperti pernikahan.

Selain untuk pakaian, kain tapis juga sudah diaplikasikan untuk bahan tas. Kamu pun bisa membawanya saat menghadiri pernikahan sebagai pelengkap dress yang kamu kenakan. Coraknya yang ramai dan warna emasnya sudah bisa membuat tampilanmu terlihat glamour meski kamu hanya mengenakan dress polos.

Songket Lombok

image credit: Pinterest

Kain songket Lombok biasanya bercorak seperti belah ketupat yang dibuat secara vertikal. Namun ada banyak corak lainnya yang sangat khas dan menggambarkan budaya Lombok. Satu lagi yang membuatnya cantik adalah adanya paduan benang warna emas yang terlihat mengkilap. Ini menjadikan songket Lombok selalu jadi incaran para turis lokal maupun mancanegara saat datang ke pulau ini. Umumnya corak warna kain ini cerah dan cocok dipadukan dengan kebaya, blus berwarna netral, ataupun sebagai outer seperti yang dikenakan Dian Pelangi pada contoh di atas.

Gringsing

image credit: Pinterest

Dari Pulau Dewata ada sebuah masterpiece yang membutuhkan waktu dua hingga lima tahun untuk membuatnya. Wow. Adalah gringsing, kain tenun khas Desa Tenganan, Bali yang dibuat dengan teknik dobel ikat. Tentunya lama waktu tersebut sangat sebanding dengan hasil yang diberikan. Teknik pembuatannya memang masih tradisional dengan alat sederhana dan dengan olahan tangan para pengrajinnya. Kamu yang ngaku orang Indonesia wajib banget punya, nih! Kain ini sudah diaplikasikan menjadi aneka pakaian dan tas yang indah serta mencerminkan budaya-budaya Bali yang sangat kental.

Baca juga: Wajib Baca, 5 Komik Indonesia Hasil Karya Anak Bangsa yang Mendunia

Besurek

image credit: www.pungkyprayitno.com

Besurek merupakan kain khas propinsi Bengkulu yang memiliki corak kaligrafi Arab. Pemilihan corak tersebut dikarenakan pengaruh budaya Arab yang pertama kali memperkenalkan kain ini pada abad ke-17 kepada masyarakat di Bengkulu. Besurek sendiri diambil dari bahasa Melayu dialek Bengkulu yang berarti bersurat atau tulisan. Seni dalam membuat motif pada besurek pun berkembang dan disesuaikan dengan tradisi khas Bengkulu yaitu adanya motif bunga rafflesia yang merupakan simbol propinsi ini. Kain ini kebanyakan diaplikasikan untuk kemeja pria, tapi kini sudah dikembangkan untuk pakaian wanita yang beraneka ragam.

Songket Palembang

image credit: IG@dianpelangi

Kain songket Palembang sudah terkenal akan keindahan dan kemewahannya berkat adanya sulaman benang warna emas sehingga membuatnya terlihat gemerlap. Para wanita yang memakainya pun jadi tampak glamour tapi berkesan tradisional. Kain ini bahkan sudah dibawa ke kancah internasional pada acara D.C. Fashion Week yang digelar di Amerika Serikat oleh desainer berbakat Dian Pelangi. Sebagai gadis kelahiran Palembang, Dian berhasil membawa keindahan songket Palembang sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang bisa dibuat dengan model yang sangat beragam.

Tenun Dayak

image credit: Pinterest

Kesan pertama saat melihat tenun Dayak adalah banyaknya motif tribal yang mempesona dan sangat mudah dikenali sebagai kain tenun khas suku Dayak. Kain ini biasanya dikenakan saat upacara tradisional oleh masyarakat Dayak. Warna yang ditawarkan cenderung cerah dengan corak yang sangat mencolok. Tenun Dayak umumnya dibuat sebagai bawahan, tapi kamu bisa juga mengaplikasikannya sebagai atasan, mulai dari blouse, blazer, hingga vest. Bila diaplikasikan sebagai atasan, kamu bisa memakainya untuk kegiatan sehari-hari, seperti ke kantor, jalan-jalan, ataupun menghadiri pesta.

Poleng

image credit: IG@fatin_tenun

Kalau pergi ke Bali pasti sudah tidak asing lagi dengan kain bercorak kotak-kotak. Kain ini memang menjadi simbol Pulau Dewata bernama poleng. Tidak hanya digunakan untuk upacara adat dan keagamaan saja, kain poleng juga dijadikan aksen sebagai dekorasi ruangan. Poleng sendiri memiliki makna tentang dua sifat yang bertolak belakang, seperti tinggi-rendah maupun baik-buruk. Warna yang banyak dipakai adalah hitam-putih, tapi ada juga warna lainnya yang makin membuatnya menarik. Padu padannya juga cukup mudah. Poleng bisa dijadikan skirt, dress, blus, hingga outer yang memberikan kesan tradisional khas Bali.

Jumputan

image credit: Pinterest

Tak lagi dianggap jadul, jumputan akhir-akhir ini sedang hits dan digemari berbagai kalangan. Sesuai namanya, kain ini dibuat dengan cara dijumput (diikat) lalu dicelupkan pada aneka warna yang cantik. Sejarah kain jumputan pertama kali berasal dari Sumatera dan Jawa yang dibawa oleh orang Cina ke Indonesia oleh saudagar India. Selain bisa diaplikasikan pada kebaya, kain ini juga sudah mulai dimodifikasi ke berbagai jenis pakaian, seperti celana kulot dan outerwear. Coraknya yang simpel memudahkanmu untuk memakainya ke acara santai untuk gaya kasual.

Ulap Doyo

image credit: IG@ulapdoyo_kaltim

Kain tenun yang terakhir datang dari kerajaan tertua di Indonesia yaitu Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur. Nama kainnya adalah ulap doyo yang memiliki ciri khas perpaduan motif garis dan corak flora fauna ataupun sekedar motif tribal. Tidak seperti tenun lainnya, ulap doyo terbuat dari bahan alami berupa daun doyo yang diolah menjadi benang. Ini tentunya menambah ciri khas kain yang hanya bisa ditemukan di Kalimantan Timur. Kain ini telah dikembangkan ke berbagai jenis pakaian, mulai dari kemeja, blus, outerwear, bawahan, hingga tas dan peci.

Baca juga: 11 Kekayaan Kuliner Indonesia yang Mendunia

Jadi sudah tahu kan kalau Indonesia itu kaya dengan kain tenun yang beraneka ragam dari berbagai daerah? Kamu wajib berbangga diri dan turut melestarikan kekayaan budaya ini dengan cara memakainya. Tak perlu malu dibilang kuno, justru kain-kain ini mendatangkan nilai etnik yang khas milik Nusantara. Ragam tenun di atas bisa kamu dapatkan di Aneka Tenun yang menyediakan kain khas Indonesia dari berbagai daerah. Untuk info lebih lengkap bisa kamu cari di GoToMalls.com, aplikasi berbasis website yang memberikan info seputar mall dan merchant di dalamnya.

Leave a Reply