7 Fakta Menarik Seputar Hari Raya Nyepi di Bali

Tiara Mahardika

, Others

Jika biasanya hari raya keagamaan dirayakan dengan meriah, berbeda dengan Hari Raya Nyepi. Saat Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu memiliki empat pantangan atau catur brata penyepian yang harus dijalankan. Pantangan tersebut adalah amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati geni (tidak menyalakan api), dan amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Di Pulau Bali yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, aturan ini benar-benar diterapkan. Berikut 7 fakta menarik saat Nyepi yang hanya ada di Pulau Bali:

Baca juga: Nyepi, Hari Raya Dengan Rangkaian Kegiatan Penuh Makna

Jalanan Kosong: Emisi CO2 Berkurang & World Silent Day

Image credit: balikidsguide.com

Saat Hari Raya Nyepi, masyarakat di Pulau Bali tidak boleh sama sekali keluar rumah. Hanya ada pecalang atau petugas keamanan desa yang bertugas menertibkan perayaan Nyepi yang sakral ini. Jalanan terlihat lenggang dan kosong karena tak ada kendaraan yang beroperasi. Satu-satunya kendaraan yang diperbolehkan beroperasi hanyalah ambulans untuk mengantar atau menjemput pasien dari dan ke rumah sakit. Itu pun harus didampingi atau dikawal oleh pecalang.

Hampir tidak adanya kendaraan yang beroperasi saat Hari Raya Nyepi ini ternyata mampu mereduksi emisi karbon dioksida (CO2) lho! Diperkirakan jumlahnya mencapai 20.000 ton dalam sehari. Jumlah reduksi emisi yang luar biasa dari Hari Raya Nyepi ini menginspirasi PBB untuk mencanangkan World Silent Day yang diperingati tiap 21 Maret.

Bandara, Terminal, dan Pelabuhan Tidak Beroperasi Sementara

Image credit: indosurflife.com

Semua pusat moda transportasi berhenti beroperasi saat Nyepi. Semua aktivitas di pusat moda transportasi dihentikan. Bandara, terminal, pelabuhan, bahkan Tol Bali Mandara pun ditutup. Tak ada tiket penerbangan dari dan ke Bali yang dijual saat Hari Raya Nyepi.  Fakta menarik saat Nyepi ini merupakan momen langka yang hanya dapat ditemukan di Bali.

Hemat Listrik & Bahan Bakar Solar

Image credit: home.onehowto.com

Tahun ini, masyarakat Hindu melaksanakan Hari Raya Nyepi mulai pukul 06.00 WITA pada 17 Maret 2018 hingga 06.00 WITA hari berikutnya. Dalam sehari Nyepi, pulau Bali telah menghemat penggunaan listrik sekitar 60%. Jumlah tersebut setara dengan 290 mega watt. Selain itu, dua pembangkit listrik di Bali juga berhenti beroperasi. Keduanya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTGU) Pemaron dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Gilimanuk. Penonaktifan sementara kedua pembangkit tenaga listrik ini mampu menghemat bahan bakar solar yang biasa digunakan untuk operasional pembangkit listrik. Jumlahnya mencapai 500.000 liter atau setara Rp 3 miliar! Wow, banyak juga ya?

Malam Bertabur Bintang

Image credit: bali.intercontinental.com

Penghematan listrik secara besar-besaran tentu bisa tercapai karena sangat minimnya penggunaan listrik oleh masyarakat Bali saat Hari Raya Nyepi. Menariknya, langit Bali saat Hari Raya Nyepi akan bertabur bintang. Momen ini sering dimanfaatkan beberapa fotografer yang tidak merayakan Nyepi untuk berburu foto milky way. Tentu saja, agenda ini tidak sembarangan dilakukan. Karena masyarakat Bali tidak boleh keluar rumah selama Hari Raya Nyepi, maka agenda berburu milky way hanya bisa dilakukan dari atap gedung tinggi, rooftop hotel, atau hotel berkonsep glamping.

Baca juga: Kemah Nyaman di 5 Tempat Terbaik Glamping di Bali

Melasti dan Mecaru sebelum Nyepi

Image credit: pinterest.com

Ada banyak rentetan kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali menjelang perayaan Nyepi. Dua hari sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Hindu Bali akan melaksanakan melasti atau sembahyang di laut. Aneka persembahan diarak dari pura ke pantai. Anda bisa ikut menyaksikan prosesi ini di Pantai Sanur atau Pantai Candidasa.

Image credit: IG @alligator_seminyak

Sehari sebelum perayaan Nyepi, biasanya ada mecaru atau parade ogoh-ogoh di beberapa titik strategis di Bali. Mecaru juga biasa disebut dengan tawur kesanga. Ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang bisa dibuat dari bubur kertas dan rangka bambu. Spot menonton ogoh-ogoh yang selalu ramai adalah Pantai Kuta dan Lapangan Puputan di Denpasar. Ogoh-ogoh atau boneka raksasa ini akan diarak, kemudian beberapa di antaranya akan dibakar sebagai simbol tolak bala.

Tradisi Omed-Omedan setelah Nyepi

Image credit: wisatabaliaga.com

Satu hari setelah Nyepi disebut dengan Hari Ngembak Geni. Biasanya, warga Hindu Bali akan mengunjungi sanak-saudara pada hari ini. Salah satu ritual menarik saat Hari Ngembak Geni adalah tradisi omed-omedan. Dalam pelaksanaan tradisi yang dilangsungkan di Desa Sesetan, Denpasar ini muda-mudi akan berciuman massal atau bergantian. Omed-omedan berlangsung ramai dan meriah. Tradisi turun temurun yang digunakan sebagai penolak bala ini hanya boleh diikuti oleh muda-mudi dari Desa Sesetan saja. Meski begitu, Anda masih boleh ke sana untuk menonton atau mengabadikan momen langka ini dengan kamera Anda.

Harga Paket Menginap di Hotel yang Murah

Image credit: accorhotels.com

Saat Hari Raya Nyepi, sebagian masyarakat Bali yang tidak merayakannya memilih untuk tinggal di hotel. Hotel-hotel juga akan dipenuhi dengan wisatawan yang ingin merasakan magisnya perayaan Nyepi di Bali. Saat momen ini, banyak hotel berlomba menawarkan paket menginap dengan harga terbaik. Biasanya, paket menginap 2 malam saat Nyepi sudah termasuk sarapan untuk dua orang.

Baca juga: 7 Hotel Unik di Bali dan Instagramable

***

Itulah 7 fakta menarik saat Nyepi yang hanya ditemukan di Plau Bali. Mau ikut menyepi di Bali? Segera pesan tiket penerbangan sebelum tanggal 17 Maret 2018. Jangan lupa untuk berburu paket menginap di hotel ya! Jika memerlukan bantuan untuk pemesanan tiket perjalanan atau hotel, Anda bisa menghubungi agen perjalanan rekomendasi GoToMalls.com di sini. Manfaatkan promosi dari agen perjalanan rekomendasi GoToMalls yang sedang berlangsung! GoToMalls merupakan web aplikasi pertama di Indonesia yang memberikan informasi terpercaya seputar diskon, voucher, promosi, merchant, dan event terlengkap dan paling up-to-date.

Leave a Reply